Skip to main content

Segelas Larik untuk Bunda



Kau wanita yang memanjakan bumi pertiwi membiaskan
Kau jelita dalam album naluri nyataku
Memecahkan balon seteru
Kau tiup cinta tanpa paksa..

Kau memuji dekapan, 
Menerima untaian keegoisan
Senyum yang berkali-kali melukis raut awan tanpa sebab
Kau menguji kesabaran hatimu dengan nilai tak secarik kertas

Mungkin membalas sujud tangismu 
yang tak dapat ku tuangkan dalam-dalam
Tulus yang bergejolak 
Menyentuh mata, telinga, kaki dalam doa sembilan puluh sembilan

Bunda..
Aku menyayangimu dalam kecupan aminku..
Larik ini untuk wanita yang melahirkan dengan buahan tabah
Tak terbendung usia sampai pupil tak searah dengan kelopak mata

Maaf..
Cinta yang sering mengecewakan dan mendudukkan sebentar tawamu
dari anakmu. 



Malang, 23 Juli 2019

Popular posts from this blog

Sedikit tahu tentang saya

  Nama saya Siti Khoirotun Nisak, bisa dipanggil Ninis atau Khoirotun terserah deh hehe. Aku asli kota Malang, tapi semoga nasibku tidak malang😋 Aku gadis 19 tahun yang sering berteman dengan kata, huruf, kalimat dan rindu. Aku suka menulis baru-baru ini, tepatnya dipenghujung tahun 2018, tapi aku suka puisi dan seni sejak SMA, menurutku, Seni adalah kebebasan kita dalam sesuatu tanpa peduli penilaian orang lain, dari hal-hal kecil yang diindahkan, intinya seni itu menghargai dalam kehidupan. Seni itu kawan, luka itu teman, bahagia itu sajak dan hidup ini adalah kisah :) pertanyaan yang sering terlontar saat aku membuat ig @kuseduhrindu pada tanggal 19 April 2019 1.Kenapa suka nulis, atau suka curhat? 2.Kok bisa tulisannya sastra? 3.Apakah sering luka? Baik aku jawab   Sebenarnya aku buat ig kuseduhrindu itu keisengan kertas dan pulpen yang mager, ehh aku maksudnya wkwk :D. Aku menulis, karena dengan menulis aku bisa meluapkan perasaan yang terjadi padaku, sek...

Sebuah Tulisan

Aku diabadikan oleh orisinalitas tulisan Tapi, itu hanyalah repetisi keadaan Menjadi gagasan sporadis persambatan dan arsip kenangan Cerita ini tertegun Dimulai dari perkenalan hingga berkolaborasi dengan pengikhlasan Menyangkutkan jantung, hati  dan mata kebetulan Sepertinya tulisanku begitu membosankan Baitnya tetap luka harian Antara aku, kau dan dia yang terkapar pada pena bentangan Akhirnya meratapi pada kertas putih menenangkan Tenang, ini hanyalah sedikit tulisan perasaan Fiksi diantara nanar kenyataan dengan waktu bertaburan Ini sebuah tulisan Malang, 24 Oktober 2019

Takdir Terbungkus dalam Kardus

Berserakan bagaimana dalam bingkisan ego tergeletak tak berdaya Serdadu bayangan yang bergumul satu kenyataan Lalu.. Terikat miliaran pita ocehan  Bodoh? Takut? Iya, jawaban tepat yang pelik Mengapa? Karena bujur sangkar masih memborgolnya dan, Persegi tetap mendongengkan karton coklat yang merangkap Apakah zona hanya mampu mendengar? Entah.. Mungkin, zona tuli dan nyaman tidak dapat menafsirkan pengertian Ini salahku.. Diriku yang fasik dan memelihara jiwa bergantung, apakah bisa bangkit dari rona kardus persegi? Katapun bisu untuk menjawab Anginpun cacat untuk bergerak dan Tangisku buta untuk melihat cahaya terbuka namun, Waktu berkata bisa Semoga doa, usaha, dan tekad mampu membebaskan takdir bayang dalam kardus Lalu setelah bebas, Aku ingin menjemput takdir nyata Aku ingin bertanya pada jati diri Siapakah aku? Mampukah aku? dan Harus bagaimanakah aku? Malang, 6 Agustus 2019